Hidup Bersama Bakat

LEARNING-02

Puji syukur kehadirat Tuhan,

Bicara soal bakat, pernah nggak ayah atau ibu kalian bercerita tentang betapa bangganya memiliki anak seperti kalian? Mereka sering bercerita tentang hal-hal unik. Mulai dari kebiasaan, tingkah laku, cara bicara, atau hobi saat masih kecil. Ayah saya sering seperti itu!

Sewaktu kecil, saya sering ditinggal ayah dan ibu bekerja. Biasanya saya ikut nenek atau budhe yang sudah saya anggap ibu sendiri. Atau kalau sedang malas, saya lebih memilih di rumah sendiri. Karena khawatir terjadi apa-apa, ibu saya membelikan beberapa buku gambar dan spidol warna. Alhasil saya betah dan hanya dalam hitungan hari buku dan spidolnya sudah habis. Akhirnya harus beli lagi, habis beli lagi, begitu seterusnya. Tapi itu cerita ayah saya kepada teman-teman saya yang baru dikenalnya. Sedangkan yang saya ingat hanya saat kecil saya suka menggambar. Sudah, itu saja! hahaha.

Tapi apalah gunanya bakat kalau tidak dilatih. Seperti halnya saat sekolah setingkat SMP-SMA, saya lebih sering berkutat dengan hal-hal logika-matematika. Berbeda saat sekolah dasar saat saya masih sangat sering menyalurkan hobi menggambar, bahkan hingga memenangkan lomba merancang motif batik tingkat kabupaten. Hingga pada akhirnya karena saya memiliki kayakinan berbakat di dua hal, spasial dan logika, jatuhlan pilihan saya untuk meneruskan perkuliahan di seni-desain atau statistika.

Waktu itu saya hanya berpikir hanya dua jurusan itu yang akan melatih bakat saya. Dimanapun saya diterima semoga mampu menjadi jalan terbaik untuk hidup saya. Dan sepertinya Tuhan menghendaki saya kembali kepada kebiasaan lama, menghabiskan buku gambar dan spidol berbagai warna. Ya, meskipun sampai saat ini saya masih merindukan menghitung dan angka-angka.

Lagi-lagi, apalah gunanya mengikuti bakat, namun tanpa latihan. Waktu itu saya minder dengan berbagai skill teman-teman sekelas yang sudah cukup membuat saya kagum. Rasanya saya hanya butiran debu yang hanya bisa menggambar dua gunung dan jalan setapak di tengahnya.

Salah satu jalan yang saya tempuh saat itu adalah mengikuti mata kuliah sebaik mungkin, serajin mungkin, dan mendapat nilai setinggi mungkin. Demi minimal bisa lebih baik. Karena berangkat dari bakat spasial yang sama, saya yakin juga memiliki kemampuan yang sama. Sedikit demi sedikit saya fokus pada gaya yang saya suka dan melatih-kembangkannya. Tidak peduli pada teman-teman saya yang semakin hari juga semakin hebat (skill-nya).

Puji Tuhan, ternyata beginilah hasilnya ketika saya terus melatih bakat yang ada. Bakat tanpa latihan ibarat memancing di laut dengan alat seadanya. Hasilnya juga seadanya. Semakin sering dilatih, semakin tajam bakat kita. Bahkan sangat mungkin juga mampu mendatangkan pemasukan, hanya berbekal bakat dan latihan. Dan berdoa tentunya.

Saya pernah mendengar kutipan bahwa bakat tidak bisa dipelajari, namun bisa dibangkitkan. Maka kita selalu diberikan pilihan apakah hanya meyakini bakat saja atau kemudian melatihnya.

Salam hangat,
H H

2 thoughts on “Hidup Bersama Bakat

  1. Aku masih ingat, pas pertama ketemu Bapak, beliau cerita banyak soal bakat menggambarmu yang emang tumbuh sedari kecil.
    Melihatmu sekarang pasti beliau bangga dengan mu, begitu juga dengan Ibu di surga.
    Terus berkarya Harun, sehat terus! Im proud of you!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s