Berkarya dan Berdaya – Bag. 1

TENTARA JOGJA-03

Puji syukur kehadirat Tuhan,

Mengenal jati diri bangsa sendiri is the new sexy, begitu mungkin ungkapan yang cocok untuk apa yang saya dapatkan di akhir pekan lalu. Waktu itu Kreavi mengadakan Kumpul Kreavi ketigapuluh dua. Tema yang diangkat pun cukup ‘dewasa’, Kayakarya, tentang bagaimna berkarya dan berdaya untuk Indonesia. Tentang berkarya, namun tidak meninggalkan jati diri bangsa sendiri.

Di Kumpul Kreavi kali itu menyajikan dua sesi diskusi panel. Di sesi pertama ada Bintang Suhadiyono, Erwan Priyadi, dan Prihatmoko Moki. Ketiganya menjadi panelis dalam sesi tersebut karena tentu saja mereka telah berkarya dan berdaya untuk Indonesia. Bintang dengan ‘Teh Punya Cerita’-nya, Erwan dengan cerita tentang Suku Using dari Banyuwangi, dan Moki dengan mural karakter bangsa.

Teh Punya Cerita, awalnya merupakan sebuh karya tugas akhir Bintang. Kegemarannya minum teh menjadi alasan utamanya untuk tahu lebih dalam tentang seluk beluk teh. Tak berhenti saja sampai disitu, Bintang mulai mengumpulkan banyak sumber dan literasi untuk melengkapi risetnya. Hingga ia sadar bahwa ada banyak sekali keunikan tentang teh. Bahkan saking banyaknya, apa-apa yang tertuang di The Punya Cerita ini hanya permukaannya saja.

Saat ini Teh Punya Cerita masih membahas secara umum tentang teh dari dalam dan luar negeri. Ke depannya, Bintang berencana membuat seri kedua Teh Punya Cerita dengan cerita yang lebih dalam khusus tentang teh-teh Indonesia.

Hampir sama seperti Bintang, Erwan dalam mebuat karya tentang Suku Using juga berawal dari rasa keingintahuannya. Pasalnya Suku Using ini tidak terlalu dikenal, bahkan oleh masyarakat di Jawa Timur sendiri. Ada juga yang menganggap bahwa Suku Using punya stereotip negatif. Mereka begitu identik dengan klenik, santet, pelet, dan lain sebagainya. Misalnya saja ada satu tarian di Suku Using, dimana penarinya dipilih melalui mimpi dan penari tersebut tidak sadar saat menari.

Melalui buku yang memuat tentang berbagai aktivitas budaya Suku Using ini, Erwan ingin membuat sebuah karya yang mempunyai impact dalam dunia sosial budaya. Ia ingin menunjukkan betapa beranekaragam budaya di Indonesia. Salah satunya yang terjadi di Suku Using ini, yang masih menjaga utuh tradisi hingga hari ini.

Berbeda dengan Moki, Ia justru berkarya sebagai wujud protesnya terhadap sesuatu. Dulu Moki pernah membuat karya tentang seorang tokoh penemu Benua Australia, James Cook. Hingga ia berpikir mengapa ia tidak membuat karya bertema Indonesia saja. Lalu muncullah banyak karyanya dengan ciri khas karakter bangsa yang dituangkan dalam mural.

Salah satu karyanya yang berjudul Prajurit Kalah Tanpa Raja menjadi wujud protesnya terhadap keadaan Yogyakarta saat ini. Ia melihat banyak fenomena sosial di Yogyakarta yang tidak pas. Menurutnya Yogyakarta sudah maju namun pada arah yang salah. Pembangunan banyak hotel di Yogyakarta misalnya, menjadi fenomena nyata yang memiliki efek buruk pada lingkungan.

Baik Bintang, Erwan, dan Moki memiliki pengalaman yang sama dalam membuat karyanya. Sambil berkarya, sambil belajar, sambil melestarikan budaya. Mereka jadi lebih tahu tentang keunikan budaya Indonesia yang begitu kaya raya. Tidak terbatas pada gaya dan media apa yang dipakai, berkarya dan berdaya untuk bangsa tak ada batasnya.

Salam hangat,
H H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s