Naik Tangga

Puji syukur kehadirat Tuhan YME,

Pos kali ini saya tulis sebagai wujud terima kasih kepada eks-perusahaan tempat saya bekerja, Printerous. Per hari jumat tanggal 28 September lalu, saya resmi mengundurkan diri dari perusahaan yang telah memberikan kesempatan berharga. Jujur saja keputusan untuk mengundurkan diri ini saya buat dalam waktu singkat. Pertimbangannya memang karena menyangkut studi saya.

Beda sekali rasanya ketika dulu bekerja di sebuah startup incubator lalu berada di dalam perusahaan yang dalam masa berkembang. Sedikit banyak saya belajar bagaimana sebuah perusahaan mempertahankan diri untuk tetap berdiri dan terus berinovasi.

Awal kali ketika saya masuk, yaitu dua tahun lalu, hampir tak ada gambaran perusahaan apa ini. Perusahaan ini punya dua kantor, di Jakarta sebagai pusatnya dan Yogyakarta, dimana saya ditempatkan. Berada jauh dari kantor pusat memang seolah memberikan kesan dan pandangan berbeda. Tekanannya pun berbeda, apalagi aturannya.

Tugas pertama saya waktu itu adalah membuat beberapa template materi untuk keperluan pemasaran seperti kartu nama, brosur, selebaran, dan lain sebagainya. Lalu mengurusi halaman builder, melayani berbagai permintaan desain dari klien, membantu mengurusi halaman Pro-Account, hingga yang terakhir ini menyiapkan final artwork untuk berbagai pesanan.

Oiya, singkatnya Printerous ini adalah sebuah platform online untuk keperluan cetak mencetak. Kasarnya, kalau Go-Jek itu perusahaan transportasi yang tidak punya alat transportasi, kalau Printerous itu percetakan yang tidak punya mesin cetak.

Jujur saja saya sering merasa ada yang kurang dari sistem kerja di perusahaan ini. Hampir setiap kali mendapat tugas untuk mengerjakan sesuatu, brief yang diberikan sering tidak lengkap dan kadang berubah dari konsep awal. Ya, memang tidak begitu masalah, hanya saja tidak jarang yang seperti itu justru tidak efisien dari segi waktu dan tenaga.

Lebih lanjut, ada banyak hal yang saya suka di Printerous. Yang pasti kerja di sana seperti bekerja dengan teman sendiri, meskipun itu dengan atasan sekalipun. Sebagai perusahaan yang saat itu masih berkembang, saya melihatnya sistem manajemennya cukup bagus. Apalagi tiap kali ada produk atau layanan baru, di situlah saya belajar. Bahwa sebuah startup harus mampu berinovasi di samping mempertahankan ide awal. Dan lagi, tentunya fokus pada satu target akan membuat startup yang dijalankan dapat berjalan lebih baik.

Tidak hanya itu, saya yakin ini ada hubungannya. Semenjak saya berkerja di Printerous, saya merasa berada di salah satu jalur yang tepat. Bukan sekadar soal bayaran, lebih penting adalah relasi dan kenalan. Semenjak itu pun beberapa pekerjaan lepas juga sering saya dapatkan. Hingga akhirnya saya dapat mengumpulkan modal untuk melanjutkan pendidikan. Terima kasih Tuhan!

Di akhir, beberapa minggu sebelum saya mengundurkan diri, Printerous mengadakan sebuah kegiatan outing. Tentu saja saya harus ke Jakarta, hingga akhirnya dapat berjumpa dengan seluruh anggota tim. Orang-orang yang biasa hanya berkomunikasi lewat aplikasi Telegram, kini nampak penampilan dan sifatnya. Cara mereka berkata dan berlaku, membuat saya seperti enggan untuk beranjak dari perusahaan ini.

Tapi mau bagaimana lagi, ketika ada dua hal penting dan tidak bisa disatukan, harus ada yang dikorbankan. Terlalu kasar kalau saya menganggap Printerous sebagai batu pijakan awal, nyatanya lebih dari banyak anak tangga. Tangga yang mampu mengantarkan saya untuk berlaku lebih bijaksana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s